Rabu, Agustus 19

14 Patung Bayar 700 Ribu, Mahalnya Tarif Angkut Barang Di Pelabuhan Kotaagung


Tanggamus, www.lampungheadlines.com - Jasa penyebrangan angkutan penumpang dan barang menggunakan kapal laut yang dikelola oleh pihak pelabuhan penyebrangan Kotaagung memuai kekecewaan masyarakat, pasalnya tarif harga tiket khususnya barang-barang jenis tertentu yang akan dikirim ke sejumlah Pekon wilayah bagian selatan di kecamatan pematang sawa tersebut dinilai biaya cost yang harus dikeluarkan cukup menguras isi kantong.

ini di rasa oleh masyarakat cukup memberatkan  serta tak sebanding dengan pelayanan yang di dapat dari pihak pengelola pelabuhan, contoh kecil seperti hal terjaminnya keamanan bagi para penumpang kapal maupun barang-barang yang dibawa dengan keadaan safety selama dalam masa perjalanan dari pelabuhan Kotaagung sampai ke 8 pekon di Kecamatan pematang sawa, dimana akses jalan satu-satunya  hanya bisa dilalui melalui jalur laut.

Salah satunya yang di alami oleh Buyung (45) warga Way Gelang Kecamatan Kotaagung Barat kabupaten Tanggamus, dirinya menuturkan kejadian yang dialaminya beberapa waktu yang lalu, ketika ia hendak mengirimkan barang berupa patung lumba-lumba yang merupakan icon ciri khas dari kabupaten tanggamus.

Patung lumba-lumba yang berjumlah 14 buah tersebut rencananya akan di distribusikan ke seluruh pekon-pekon di bagian wilayah selatan tersebut, ada delapan (8) Pekon disana seperti, Pekon Tampang tua, tampang muda, way Asahan, Kaur Gading, Tirom, Martanda, karangbrak, dan teluk brak, serta akses jalan yang bisa ditempuh hanya melalui jalur laut dengan menaiki kapal dari pelabuhan penyebrangan Kotaagung selaku dalam pengelolaannya.

" 14 buah patung lumba-lumba akan di kirim ke 8 pekon dengan kapal angkutan penumpang dan barang, lalu pihak pengelola pelabuhan penyebrangan Kotaagung mengharuskan saya membayar berjumlah 1 juta rupiah, lalu negoisasi dilakukan hingga menjadi 700 ribu rupiah, dengan estimasi 600 ribu ongkos kapal dan 100 ribu upah para buruh yang memindahkan patung itu ke sampan (perahu) kecil untuk dibawa dan dipindahkan lagi menuju ke kapal lebih besar yang sudah menunggu sedikit lebih ke tengah laut,"ungkap pria yang biasa di sapa SBY ini.

Lanjutnya, keberatan yang ia sampaikan sebagai pengguna jasa transportasi laut setiap harinya, dan meminta kepada pihak-pihak terkait, seperti  pemerintah kabupaten Tanggamus, provinsi Lampung maupun pusat, agar dapat mengevaluasi kembali sistem kerja menagement tata kelola aturan yang baik dan benar di jajaran pegawai selaku pengelola pelabuhan Kotaagung ini, tentang persoalan harga tiket khususnya harga pengiriman barang-barang yang akan pergi menyebrang menuju ke pematang Sawa maupun sebaliknya.

Saat itu patung lumba-lumba yang dibawanya, ia menilai perbandingan beratnya kurang lebih hampir sama beratnya dengan satu sak semen milik penumpang lainnya yang berada di kapal yang sama, sehingga timbul pertanyaan dalam hatinya, apa yang menjadi perbedaan antar keduanya dan ini dirasa memberatkan masyarakat Tanggamus selaku pengguna jasa transportasi kapal laut yang berada di pelabuhan penyeberangan Kotaagung ini, apa lagi ditengah pandemi covid 19 saat ini.

Seharusnya, apabila harga tarif karcis mahal yang dibebankan kepada masyarakat, mereka selaku pengguna sarana penyeberangan moda transportasi kapal laut di pelabuhan Kotaagung sehari-harinya, naiknya harga tiket ini oleh pihak pengelola pelabuhan penyeberangan Kotaagung, harusnya dibarengi dengan fasilitas sarana dan prasarana yang baik, nyaman dan keamanan selama perjalanan terjamin sesuai dengan safety keamanan yang telah di tetapkan, dan pastinya pihak pengelola juga harus bertanggungjawab jika terjadi peristiwa musibah atau kapal mengalami kejadian yang tak diharapkan selama perjalanannya. Sebab sesuai dengan harga tiket karcis yang mahal dari pihak pengelola pelabuhan bagi warga selaku penumpang kapal maupun angkutan barang.

Ia perhatikan, setiap para calon penumpang melakukan pembelian tiket ke pihak pengelola pelabuhan penyeberangan ini, penumpang orang dan barang tak di lakukan pendataan secara baik serta benar, dimana identitas dinilai sangat penting untuk dicatat oleh pengelola, yang menjadi kekhawatiran adalah apabila terjadi peristiwa musibah pada kapal saat sedang berlayar di tengah lautan untuk menuju ke pekon-pekon di wilayah selatan, sebab contoh peristiwa dahulu pernah terjadi, dimana kapal angkutan ini tenggelam ke dasar laut.

"Kami khawatirkan pihak pengelola akan lepas tangan dan tak bertanggungjawab terhadap kerugian materil maupun nyawa para penumpang, ketika terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan ketika tengah menyeberang, sebab jasaraharja juga tak jelas. Saya harap, kedepan agar sistem tata pengelolaan di pelabuhan penyebrangan Kotaagung ini, jika bisa jangan terlalu memberatkan cost biaya pengeluaran para penumpang orang maupun barang,"tandanya. (Rudi)

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 Comments: