Tanggamus, www.lampungheadlines.com - Wajah yang terlihat lelah bercampur peluh menyelimuti sekujur tubuh pria berperawakan kecil ini, namun masih terlihat bersemangat memikul Jerigen ukuran 35 liter yang berisi air nira bahan baku untuk pembuatan Gula Merah, tak cukup sampai disitu saat sampai dibilik yang hanya di tempel papan dengan ukuran 4 X 5 Meter persegi itu dirinya tak langsung beristirahat, lanjut untuk memasak air nira tersebut ke atas tungku dengan menggunakan bahan kayu bakar.
Dia adalah Devi Yanto (30), warga Pedukuhan Cisurung Pekon Kalimiring, Ya memang, selama 12 tahun dirinya mengandalkan keahlian untuk membuat Gula merah demi menopang ekonomi keluarganya pas-pasan, bantuan program dari pemerintah setempat yang selama ini tak pernah dirinya rasakan. Diriya menuturkan bahwa, setiap hari dan sejak pagi dia harus memanjat setidaknya 30 batang kelapa untuk mencari Air nira, tak sampai disana dia pun harus mengolah kembali nira tersebut menjadi gula merah dengan waktu pemasakan yang cukup lama sekitar 6 - 7 jam untuk mengentalkan air nira tersebut.
" Dalam sehari saya biasa manjat 30 Batang kelapa di waktu pagi, dan sore harinya 30 batang kelapa lagi, jadi totalnya 60 batang mas, dari satu batang pohon kelapa bisa mendapatkan 3 liter air nira, Kalo takut saat memanjat pasti iya, tapi mau gimana lagi semuanya untuk memenuhi ekonomi keluarga," lirihnya.
Lanjutnya, dari hasil 70 liter air nira dalam sehari diolah menjadi gula merah, hanya menghasilkan 20 persen gula yang siap dikemas, karena hampir 80 persen air nira menyusut saat proses pemasakan, belum lagi kayu bakar di perlukan dalam jumlah besar, karena disekitar pekon setempat habis, dirinya memesan kayu bakar dari luar pekon dengan kocek yang cukup menguras kantong.
" Karena jika harus mencari kayu bakar dapat menghabiskan waktu, karna pagi harus memanjat kelapa dan langsung diolah mas, mau tak mau saya membeli 1 kubik kayu bakar seharga 400 ribu rupiah, itu pun saya beli di luar pekon Kalimiring, "Ucapnya.
Bukan hanya Devi Yanto, Hampir rata-rata masyarakat pekon Kalimiring membuat Gula merah, ini bisa menjadi acuan pemerintah kabupaten kabupaten tanggamus kedepan untuk bisa mengembangkan sentra gula merah agar bisa menjadi unggulan di Kabupaten Tanggamus, apa lagi selama ini gula merah yang di produksi di pekon tersebut di pasarkan di area Kotaagung dan Bandar Lampung dan itu pun sesuai pesanan saja.
Devi berharap agar sentra gula merah di pekon ini menjadi perhatian pemerintah daerah, karena selama ini tak satu pun bentuk kepedulian Pemkab setempat yang dapat dirasakan.
" Harapan saya mewakili masyarakat pekon disini, agar ada kepedulian dan bentuk perhatiannya kepada pengrajin gula merah di pekon Kalimiring ini, karena saya dengar Pemkab Setempat sedang semangat-semangatnya membangun UMKM di Kabupaten Tanggamus, jangan kami yang pelosok ini seperti di anak tirikan,"Pungkasnya.(Rudi)




0 Comments: